Industrial Engineering - Bachelor

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 487
  • Item
    Perbaikan Kualitas Produk Casting Rubber Mold Sepatu Dengan Menggunakan Metode Six Sigma (Studi Kasus: Departemen Pengecoran Logam PT XYZ)
    (Program Studi S1 Teknik Industri, 2025) Asrofi, Irkham; Rendiyatna Ferdian (Pembimbing)
    PT XYZ adalah perusahaan manufaktur sepatu yang menghadapi permasalahan tingkat cacat yang tinggi pada produksi mold rubber sepatu. Berdasarkan pengamatan selama periode Januari hingga Mei 2024, tercatat tingkat cacat sebesar 18,12%, jauh melebihi batas toleransi perusahaan sebesar 10%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab cacat tersebut dan memberikan usulan perbaikan menggunakan pendekatan Six Sigma melalui metode Define, Measure, Analyze, Improve, Control (DMAIC). Pada tahap Define, cacat kritis diidentifikasi menggunakan Pareto Chart. Tahap Measure melibatkan pengumpulan data produksi serta perhitungan nilai Defects Per Million Opportunities (DPMO) dan sigma level. Pada tahap Analyze, dilakukan analisis akar penyebab menggunakan Root Cause Analysis (RCA), Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), dan Fault Tree Analysis (FTA). Selanjutnya, pada tahap Improve, diterapkan langkah-langkah perbaikan termasuk penambahan parameter checksheet peleburan untuk mengurangi cacat, sementara tahap Control memastikan keberlanjutan perbaikan melalui pemantauan berkala. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi total jenis 5 cacat: porosity (5.06%), pinhole (10.9%), shrinkage (27.28%), coldshut (39.3%), dan metal penetration (5.43%) didapatkan cacat yang paling dominan terjadi pada produk casting mold rubber adalah coldshut dan shrinkage, melalui analisis akar penyebab ditemukan bahwa penyebab utama dari cacat coldshut dan shrinkage adalah suhu penuangan yang tidak optimal dan proses pengecoran yang tidak stabil. Sehingga hasil penelitian menunjukkan penurunan signifikan tingkat cacat dengan peningkatan sigma level dari 2,85 menjadi 3,44. Kesimpulannya, penerapan Six Sigma terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas produk dan menurunkan tingkat defect pada proses pengecoran mold rubber sepatu.
  • Item
    PENGENDALIAN KUALITAS TELUR AYAM MENGGUNAKAN PETA KENDALI p MULTIATRIBUT STUDI KASUS: CV XYZ
    (Program Studi S1 Teknik Industri, 2025) Medichafian, Irfan Zahra; Asep Anwar (Pembimbing)
    CV XYZ adalah perusahaan peternakan ayam petelur terbesar di wilayah Kabupaten Bandung. Melayani sejak tahun 1984, CV XYZ menyediakan telur dengan kualitas terbaik (fresh eggs) yang didistribusikan ke pelanggan kurang dari 24 jam dari waktu pengambilan telur di peternakan, saaat ini CV XYZ memiliki sekitar 200.000 ekor ayam dengan produksi mencapai 9 ton per hari. Kualitas produk merupakan aspek krusial bagi kesuksesan sebuah perusahaan, termasuk di CV XYZ. Meskipun telah menerapkan pengendalian kualitas, CV XYZ masih sering menghadapi masalah dengan kualitas telur yang tidak memenuhi standar kecacatan perusahaan 5%. Ternyata, dalam setiap periode, persentase kecacatan telur ayam selalu melebihi batas yang ditetapkan, berkisar antara 5.18% hingga 5.40%. Ini menunjukkan bahwa kualitas telur ayam selama periode tersebut belum memenuhi standar perusahaan, adapun kriteria produk yang dinyatakan cacat yaitu abnormal, kulit telur yang retak, dan telur yang pecah, yang menyebabkan kerugian bagi perusahaan sehingga perlu adanya perhatian lebih lanjut dan tindakan perbaikan. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan peta kendali p multiatribut dalam pengendalian kualitas telur ayam di CV XYZ, guna mengidentifikasi kecacatan telur ayam dominan dan menentukan usulan perbaikan guna mengurangi kecacatan produk. Data kecacatan telur dikumpulkan dari periode 1 November 2023 hingga 30 April 2024, dengan kriteria cacat meliputi telur abnormal, telur retak, dan telur pecah. Peta kendali p multiatribut digunakan untuk memantau proses pada dua fase. Fase I, yang berlangsung dari 1 November 2023 hingga 31 Januari 2024, menunjukkan bahwa proses belum terkendali secara statistik. Namun, pada fase II, dari 1 Februari 2024 hingga 30 April 2024, terlihat tren positif yang menunjukkan efektivitas peta kendali p multiatribut dalam memantau dan mengendalikan kualitas produk. Diagram Pareto digunakan untuk mengidentifikasi jenis cacat yang paling dominan dengan angka cacat telur retak mencapai 37%. Analisis diagram sebab-akibat mengidentifikasi lima faktor penyebab utama dari cacat telur ayam yaitu manusia, mesin, metode, lingkungan, dan material. Kesimpulan Untuk mengatasi kecacatan telur di CV XYZ, perbaikan difokuskan pada peningkatan pelatihan dan disiplin karyawan dalam mengikuti SOP penanganan telur, perawatan rutin kandang dan penggantian peralatan usang, penanganan tray telur dengan hati-hati serta pelatihan pengangkut dalam transportasi aman, menjaga kebersihan dan ventilasi gudang serta kandang dengan pengendalian kelembaban dan memastikan kesehatan induk ayam melalui pemeriksaan rutin dan pemberian pakan berkualitas. Dengan langkah-langkah ini, faktor manusia, mesin, metode, lingkungan, dan material ditingkatkan untuk menghasilkan telur berkualitas tinggi dan mengurangi kecacatan.
  • Item
    PENENTUAN INTERVAL PERAWATAN KOMPONEN KRITIS PADA SISTEM KONTROL MESIN SPINNING DENGAN METODE AGE OF REPLACEMENT (STUDI KASUS PADA PT SOUTH PACIFIC VISCOSE PURWAKARTA)
    (Program Studi S1 Teknik Industri, 2020) Rahandhika, Iqbal Gyara; Riki Ridwan Margana (Pembimbing)
    PT. South Pacific Viscose memproduksi beberapa produk, diantaranya Viscose Rayon Staple Fiber dengan total produksi mencapai 325.000 ton per tahun, mesin spinning berfungsi mereaksikan cairan viscose dengan cairan spinbath dan menjadikannya tow sebagai hasil awal dari reaksi tersebut. Mesin spinning mempunyai nilai downtime terbesar yaitu sebesar 11,87 jam yang mengakibatkan terganggunya proses produksi dalam kurun waktu 6 bulan sejak januari 2019 sampai juni 2019. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan yang menyebabkan downtime dengan menggunakan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) yang digunakan sebagai analisis mode kegagalan yang terjadi dengan menghitung nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi pada komponen mesin lalu menentukan interval perawatan preventive mesin spinning dengan pendekatan Age Of Replacement. Dimana metode tersebut akan dasar penentuan penjadwalan perawatan yang akan dilakukan. Berdasarkan hasil dari penelitian diperoleh hasil analisis mode kegagalan terhadap mesin spinning dan komponen kritis yang paling sering mengalami kerusakan yaitu komponen AS-I Slave Module dengan kategori komponen yang tidak dapat di perbaiki atau run to failure . AS-I Slave Modul mengalami kerusakan secara mendadak setiap 55905 jam berdasarkan nilai MTTF dan lama perbaikan 4 jam berdasarkan nilai MTTR. Setelah dilakukan perhitungan melakukan metode age of replacement didapatkan nilai downtime paling rendah D(Tp) 0.000007506 untuk interval perawatan komponen sebesar 45825 jam.
  • Item
    OPTIMASI BIAYA TRANSPORTASI PENDISTRIBUSIAN PRODUK JEANS DENGAN METODE VOGEL'S APPROXIMATION (Studi Kasus CV Lee Classic Bandung)
    (Program Studi S1 Teknik Industri, 2023) Pramestiana, Intan; Verani Hartati (Pembimbing)
    CV Lee Classic merupakan perusahaan yang melakukan produksi dan pendistribusian beberapa produk jeans ke berbagai daerah di kota Bandung dan Purwakarta. Dalam pengiriman biaya transportasi yang dikeluarkan cukup besar, sehingga perusahaan merencanakan optimasi biaya untuk mencapai efisiensi biaya transportasi untuk meningkatkan keuntungan bagi perusahaan. Salah satu cara untuk meminimalkan biaya distribusi adalah metode transportasi. Pengolahan data untuk menghitung optimasi biaya transportasi pengiriman menggunakan Vogel’s Approximation Method (VAM). Adapun alat bantu untuk memverifikasi perhitungan menggunakan aplikasi POM-QM dengan metode VAM. Berdasarkan perhitungan optimasi biaya transportasi untuk pengiriman produk jeans menggunakan Vogel’s Approximation Method (VAM), dengan perhitungan manual mendapatkan hasil biaya pengiriman yang rendah yaitu dengan sebesar Rp 208.370 dan dapat dipastikan biaya tersebut sudah mencapai yang optimal dari biaya distribusi sebelumnya. Didapatkan hasil pengiriman setelah dilakukan pengoptimalan yaitu dari gudang Melong ke toko Matrix jeans dan toko Matahari, dari gudang Nanjung ke toko Sale Zone dan toko Tiga, dari gudang Rajawali ke toko Perahu jeans, toko 3 Second dan toko Matahari. Setelah melakukan verifikasi hasil perhitungan manual Vogel’s Approximation Method (VAM) dengan aplikasi POM-QM dan dapat memperoleh hasil yang sama dengan perhitungan secara manual. Jadi, setelah diperoleh penghematan biaya transportasi sebesar Rp 91.630 per satu kali pengiriman perusahaan dapat menggunakan Vogel’s Approximation Method (VAM), dan diharapkan dapat meningkatkan keuntungan bagi perusahaan.
  • Item
    ANALISIS PENGENDALIAN RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA MENGGUNAKAN METODE JSA DAN HIRARC PADA DIVISI QUALITY CONTROL PT SANBE FARMA
    (Program Studi S1 Teknik Industri, 2023) Ningrum, Inayah Rahmah; Annisa Maharani Suyono (Pembimbing)
    PT Sanbe Farma merupakan salah satu perusahaan di bidang farmasi, dengan pengembangan formulasi, produksi, dan penjualan obat yang aman dan berkualitas tinggi. Berdasarkan data kecelakaan kerja pada tahun 2020 hingga 2022 mengalami kenaikan jumlah angka kecelakaan kerja tiap tahunnya. Perusahaan belum sepenuhnya menerapkan sistem K3, seperti mengindentifikasi bahaya dan penilaian risiko akibat bahaya yang dihasilkan pada setiap aktivitas pekerjaan. Hal tersebut mengakibatkan belum adanya kontrol pada penerapan sistem K3 di perusahaan. Oleh sebab itu perlunya dilakukan identifikasi risiko dan pengendalian risiko untuk meminimalisir kecelakaan kerja di PT Sanbe Farma dengan menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) dan Hazard Identification, Risk Assesment, and Risk Control. Pada tahap identifikasi, langkah pertama yaitu hazard identification yaitu mengidentifikasi potensi bahaya yang mungkin terjadi. Kemudian tahap kedua yaitu melakukan risk assessment yaitu penilaian potensi bahaya berdasarkan severity dan likelihood. Hasil penelitian ini terdapat 20 potensi bahaya pada pekerja PT Sanbe Farma yang teridentifikasi dan dikategorikan kedalam 3 rating risiko yaitu sebanyak 5 potensi risiko dalam rating high, 13 potensi risiko dalam rating moderate dan 2 potensi risiko dalam rating low. Rekomendasi perbaikan didapatkan dari hasil pengendalian risiko menggunakan risk control dengan mempertimbangkan hirarki pengendalian risiko seperti eliminasi, perancangan, administrasi, dan alat pelindung diri. Contohnya dengan melakukan pemusnahkan alat kimia, memperbaiki blower, pengisian worksheet penggunaan APD, pembuatan visual display penggunaan APD lengkap, simbol bahan kimia, NFPA, Flammable dan Imflammable, dan penggunaan APD.