PERANAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PENJUALAN DALAM MENUNJANG EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL PENJUALAN JASA SEWA KAMAR (Studi Kasus pada Hotel Permata Bidakara Bandung)
No Thumbnail Available
Date
2004
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama
Abstract
Kondisi perekonomian Indonesia yang belum stabil serta penurunan nilai
investasi asing akibat semakin berkurangnya investor asing menanamkan
modalnya mengakibatkan nilai devisa menurun. Sumber devisa negara dan
menjadi salah satu andalan dalam pembangunan negara Indonesia adalah sektor
pariwisata.
Salah satu penunjang sektor pariwisata dan merupakan salah satu bentuk
usaha yang terkait dengan pariwisata adalah usaha jasa perhotelan. Sebagai salah
satu perusahaan jasa, perusahaan memerlukan penanganan yang baik atas aktivitas
penjualannya yaitu aktivitas utama perhotelan adalah penjualan jasa sewa kamar.
Dalam aktivitas penjualan jasa sewa kamar sangat diperlukan suatu sistem
informasi akuntansi penjualan jasa sewa kamar untuk menghasilkan suatu
informasi yang cepat, tepat dan akurat. Aktivitas penjualan jasa sewa kamar
dalam pengelolaannya membutuhkan suatu pengendalian internal untuk
melakukan pengawasan aktivitas penjualan jasa sewa kamar.
Dengan adanya pengendalian internal penjualan jasa sewa kamar dapat
dicapai suatu tujuan, yaitu : mengamankan harta perusahaan, menguji ketelitian
dan kebenaran akuntansi, meningkatkan efisiensi perusahaan dan mendorong
ketaatan pada kebijakan-kebijakan yang telah digariskan pimpinan perusahaan.
Di hotel Permata Bidakara Bandung di dalam penerapannya sistem
informasi akuntansi penjualan jasa sewa kamar sangat berperan sebagai alat bantu
dalam menunjang efektivitas pengendalian internal penjualan jasa sewa kamar
hal ini dapat dilihat dari adanya unsur-unsur pengendaJian internal yang memadai,
dengan ditunjukkan oleh kondisi sebagai berikut :
I. Adanya sistem dan prosedur penjualan jasa sewa kamar yang layak.
2. Adanya formulir, catatan, laporan yang memadai serta penggunaan alat seperti
komputer maupun telephone switchboard untuk mengefektifkan kinerja.
3. Adanya pemisahan tugas dan pelimpahan wewenang yang jelas.
4. Adanya pengamanan atas aktiva dan catatan.
5. Adanya pemeriksaan tidak memihak atas pelaksanaan tugas serta
pelaporannya.
Namun masill terdapat kelemahan, maka dari itu penulis menyarankan
agar terdapat fungsi baru yaitu FO Cashier sebagai kasir secara langsung berada
di bawah pengawasan Accounting Department bersama dengan Outlet Cashier
Iainnya , serta digunakannya formulir dengan nomor urut tercetak untuk
mempermudah proses pengidentifikasian dan disediakannya kolom pengesahan
bagian pejabat Untuk keperluan pengendalian dan mencantumkan nama serta
tanda tangan petugas yang membuat serta menyetujui suatu laporan. Hal ini
ditujukan agar tidak sulit dalam hal pertanggungjawaban.