Analisis Perbandingan Metode Konvensional Dengan Metode Activity Based Costing Dalam Perhitungan Break Even Point (Studi Kasus pada PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading Co Tbk.)

Widyatama Repository

Analisis Perbandingan Metode Konvensional Dengan Metode Activity Based Costing Dalam Perhitungan Break Even Point (Studi Kasus pada PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading Co Tbk.)

Show full item record

Title: Analisis Perbandingan Metode Konvensional Dengan Metode Activity Based Costing Dalam Perhitungan Break Even Point (Studi Kasus pada PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading Co Tbk.)
Author: K.G.S, Mario
Abstract: Ekonomi yang pasang surut akhir-akhir ini memberikan pengaruh bagi manajemen di dalam mengambil keputusan demi mengatasi persaingan bisnis dengan perusahaan yang sejenis. Dalam hal ini salah satu alat bantu yang dapat dipakai manajemen adalah analisis break even point atau titik impas, yaitu analisis yang memberikan informasi berapa tingkat penjualan yang harus dicapai agar perusahaan tidak mengalami kerugian dan tidak memperoleh laba. Bagi perusahaan yang memproduksi multri produk, seperti PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Co,Tbk. analisis break even pointnya masih menggunakan metode konvensional. Metode ini tidak cocok lagi diterapkan untuk perusahaan tersebut karena akan menimbulkan distorsi biaya yang besar. Saat ini telah ada metode lain untuk menganalisis break even point, yaitu metode activity based costing. Karena itu dalam penyusunan skripsi ini penulis mengambil judul : â Analisis Perbandingan Metode Konvensional dengan Metode Activity Based Costing dalam Perhitungan Break Even Pointâ . Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana perhitungan break even point dengan menggunakan metode konvensional di dalam perusahaan, dengan metode activity based costing serta bagaimana perbandingan antara kedua metode. Di dalam penyusunan skripsi ini penulis menggunakan metode deskriptif yang mengkhususkan pada studi kasus. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research) untuk mengambil data primernya melalui observasi, wawancara dan studi dokumen, serta penelitian kepustakaan (library research) untuk mengambil data sekundernya. Hasil penelitian yang dilakukan penulis menginformasikan bahwa titik impas menurut metode konvensional adalah 4.540.828 unit atau Rp 21.795.972.944 untuk susu Cap Sapi, 3.167.250 unit atau Rp 13.302.451.354 untuk susu Cap Manis dan untuk susu Cap Country Pride sebesar 3.557.154 unit atau Rp 15.651.479.029. Sedangkan menurut metode activity based costing penulis menginformasikan bahwa titik impas untuk susu Cap Sapi sebanyak 4.031.027 unit atau Rp 19.348.928.100, untuk susu Cap Manis 4.223.251 unit atau Rp 17.737.656.009 serta untuk susu Cap Country Pride sebanyak 4.069.062 unit atau Rp 17.903.872.566. Berdasarkan hal tersebut maka penulis mengambil kesimpulan bahwa terjadi perbedaan hasil antara kedua metode. Perbedaan ini karena : a. pengklasifikasian biaya ABC mengklasifikasikan biaya berdasarkan aktivitas (aktivitas berlevel unit, produk, batch dan fasilitas) sedangkan metode konvensional berdasarkan perilaku biaya (tetap, variabel dan semi variabel) b. pengalokasian biaya ABC mengalokasikan biaya berdasarkan aktivitas jumlah sumber daya yang dikonsumsi suatu produk, sedangkan metode konvensional membebankan biaya seolah-olah berdasarkan komposisi penjualan.
URI: http://repository.widyatama.ac.id/xmlui/handle/10364/630
Date: 2005-12


Files in this item

Files Size Format View Description
content.pdf 2.673Mb PDF View/Open content
cover.pdf 104.1Kb PDF View/Open cover

This item appears in the following Collection(s)

Show full item record